Bersiap Meloncat
August 1, 2012
Mereka menyindir saya tanpa sadar. Berdua lebih baik katanya. Berpegangan tangan satu sama lain. Kesana kemari tidak sendiri. Iringan langkahnya diikuti senyum mengembang dari keduanya. Iya, mereka itu pasangan yang sepanjang hari saya temui di jalanan berboncengan sambil memeluk erat tubuh partner-nya, di sudut taman pinggir kota, begitupun di bawah romantisnya lampu restoran seberang jalan. Sungguh romantis, bagi mereka.
Sayapun larut dalam perbincangan malam dengan seorang teman di dunia maya. Membahas tentang sesuatu yang disebut ‘hubungan’. Kami mengamini dulu kami juga pernah merasakan apa yang pernah mereka lakukan. Bersama pasangan masing-masing menghabiskan malam dengan berbincang lewat telfon meskipun terkadang tanpa tujuan. Merelakan akhir pekan untuk bertemu sekalipun itu hanya beberapa jam saja.
Pernah ada perasaan yang memaksa saya untuk mencobanya sekali lagi. Tapi gak berlangsung lama perasaan itu kemudian hilang secara perlahan. Hilang saat mengingat hal yang dulu pernah terjadi. Obrolan hangat dengan teman di sekitar seolah juga mengingatkan kepada saya bahwa berkomitmen itu gak mudah. Gak cuma sekedar menjalani proses perubahan status.
Harus ada yang dikorbankan setiap menjalaninya. Berusaha menjaga perasaan pasangan agar tetap nyaman saat berada disamping kita. Juga bagaimana menjaga rindu yang diciptakan oleh jarak dan waktu. Menyempatkan diri meluangkan beberapa karakter untuk menanyakan kabar hingga terlelap tidur.
Saya bertahan sendiri. Di saat teman sekitar sibuk meloncat dari satu hati ke hati yang lain. Mereka gak sadar tingkahnya terkadang membuat saya ingin menirunya. Menirunya untuk menciptakan hubungan baru.
Saya masih diam gak bergeming. Padahal terkadang, motivasi dari ‘seseorang’ bisa membuat saya lebih semangat menjalani kehidupan. Meskipun itu hanya sebentuk perhatian sederhana. Sepertinya saya hanya belum tau bagaimana cara memulainya. Rasa khawatir selalu muncul ketika komitmen itu diucapkan. Ada yang bilang jalani saja dulu. Tapi beginilah saya. Sesekali masih terus menengok ke belakang. Menatap masa lalu. Belum bergerak ke depan dan bersiap berpindah.
Sudahlah, masih banyak hal yang bisa saya lakukan. Sekeliling saya candaan dan kebersamaan teman sudah menanti. Biar keadaan seperti ini yang menuntun saya nantinya. Hingga nanti suatu saat saya sudah siap untuk meloncat.
*kesurupan nulis beginian -.-










9 replies
hehe, jarak jauh tak masalah bgiku kak
:nyam:
by hany on August 5, 2012 at 12:21 pm. #
Jomblo bukan berarti homo
by Marchei Riendra on August 3, 2012 at 3:43 pm. #
bersatulah IJOLUMUT-ikatan jomblo lucu dan imut- untuk tetap dapat melakukan hal banyak yang bisa dilakukan dan berguna
saya mendukung
(#jomblo juga dan siap meloncat
)
by Senjakala Adirata on August 6, 2012 at 9:32 pm. #
Nowplaying : Wali – Cari Jodoh
by Herry Fitrian on August 2, 2012 at 9:54 pm. #
ini postingan lanjutan dr `Cari Jodoh` itu ya?
emang kenapa klo ga punya pacar? yang ditanya sama malaikat itu siapa Tuhanmu, bukan siapa pacarmu.
by Neng Ucrit on August 2, 2012 at 12:33 pm. #
Kalau ini twitter, saya retweet. Sekian.
by Auliafasya on August 1, 2012 at 9:46 pm. #
move on.. move on.. hidup move on !!!
by thya on August 1, 2012 at 3:29 pm. #
hahaha,
kalo belum siap gak usah dipaksa ga. masih ada keluarga dan temen2 mu kan yg bisa kasih perhatian biar kamu semangat :-P
by yolanda on August 1, 2012 at 2:58 pm. #
wah kok kayaknya sedih banget nih.. belum lompat lompat… hehehehehehe hati hati loh kalau mau loncat loncat gitu.. supaya tidak nyesel hehheeh… good luck ya sob…
by applausr on August 1, 2012 at 12:18 pm. #